-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan


Iklan

Indeks Berita

Senny Marbun Terpilih sebagai Presiden APSF 2026–2030, Siap Perkuat Kemajuan Olahraga Disabilitas Asia Tenggara

Selasa, 09 Juni 2026 | 12.38 WIB Last Updated 2026-06-09T05:40:12Z


SOLO, – Tokoh olahraga disabilitas Indonesia, Senny Marbun, resmi terpilih sebagai Presiden ASEAN Para Sports Federation (APSF) periode 2026–2030. Keputusan tersebut lahir melalui proses pemungutan suara yang melibatkan perwakilan dari sebelas negara anggota APSF dalam Sidang Umum APSF yang berlangsung di Grand Ballroom Hotel Alila Solo, Sabtu (6/6).


Dalam proses pemilihan, Senny Marbun memperoleh tujuh suara dan unggul atas kandidat asal Thailand, Maitree Kongruang, yang mendapatkan empat suara. Hasil tersebut sekaligus menandai dimulainya kepemimpinan baru APSF setelah organisasi dipimpin oleh Osoth Bhavilai dari Thailand selama satu dekade terakhir.


Senny akan memimpin federasi olahraga disabilitas Asia Tenggara bersama jajaran Komite Eksekutif APSF periode 2026–2030. Struktur kepengurusan terbaru terdiri atas Dr. Teo-Koh Sock Miang dari Singapura, H.E. Yi Veasna dari Kamboja, Michael Barredo dari Filipina, dan Dr. Than Than Htay dari Myanmar yang masing-masing menjabat sebagai wakil presiden pada bidang berbeda.


Kepengurusan tersebut juga diperkuat oleh Ali Yusri Abdul Ghafor dari Brunei Darussalam yang dipercaya sebagai bendahara. Sementara itu, posisi Sekretaris Jenderal diemban oleh Sukanti Rahardjo Bintoro dari Indonesia.


Bagi dunia olahraga disabilitas Asia Tenggara, nama Senny Marbun bukan sosok baru. Pria kelahiran Siborongborong, 9 April 1954, tersebut sebelumnya menjabat sebagai Wakil Presiden APSF bidang Media and Communications Committee periode 2022–2026 dan dikenal sebagai salah satu tokoh sentral yang menginisiasi penyelenggaraan ASEAN Para Games Solo 2022.


Pengalaman panjang membangun National Paralympic Committee (NPC) Indonesia menjadi modal penting bagi Senny dalam mengemban amanah baru. Mantan atlet lempar para atletik tersebut berkomitmen mendorong peningkatan kualitas pembinaan olahraga disabilitas di seluruh kawasan Asia Tenggara agar mampu bersaing di level internasional.


“Saya ingin prestasi negara-negara di Asia Tenggara lebih maju lagi ke depannya. Kalau melihat perkembangan Indonesia, pencapaiannya sudah sangat baik. Kita pernah menjadi juara umum tiga kali berturut-turut di ASEAN Para Games dan juga meraih hasil membanggakan di Paralimpiade. Sekarang saya ingin negara-negara Asia Tenggara mengikuti jejak tersebut agar bisa terus melangkah lebih jauh,” ujar Senny Marbun.


Menurut Senny, salah satu tantangan yang masih dihadapi sejumlah negara anggota APSF adalah belum meratanya perhatian terhadap masyarakat difabel dan pengembangan olahraga disabilitas. Karena itu, APSF akan mengambil peran lebih aktif dalam mendorong peningkatan dukungan pemerintah terhadap atlet dan komunitas difabel di kawasan.


“Masih ada negara-negara yang memarjinalkan masyarakat difabel. Kita perlu membangkitkan semangat negara-negara tersebut agar mampu berkembang seperti Indonesia. Dahulu kita juga menghadapi tantangan yang sama, tetapi sekarang Indonesia mampu menunjukkan kemajuan luar biasa. Bahkan kita sudah memiliki training center seluas sepuluh hektare. Pengalaman tersebut perlu kita bagikan kepada negara-negara lain,” katanya.


Senny menegaskan bahwa APSF akan melakukan pendekatan langsung kepada negara-negara yang masih membutuhkan dukungan dalam pengembangan olahraga disabilitas. Langkah tersebut diharapkan mampu meningkatkan harkat dan martabat masyarakat difabel sekaligus memperluas kesempatan mereka untuk berprestasi.


“Saya akan berupaya mendatangi negara-negara yang belum mendapatkan perhatian optimal dari pemerintahnya. Kami ingin mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk mengangkat harkat dan martabat masyarakat difabel sebagaimana yang sudah dilakukan Indonesia,” tambahnya.


Dalam waktu dekat, APSF akan memprioritaskan penyelesaian seluruh dokumen administrasi dari kepengurusan sebelumnya. Organisasi juga akan memindahkan kantor sekretariat APSF dari Thailand ke Indonesia sebagai bagian dari proses transisi kepemimpinan.


Selain menjalankan agenda organisasi, APSF periode 2026–2030 juga memiliki tanggung jawab mendampingi negara-negara anggota menghadapi Asian Para Games 2026 di Nagoya, Jepang, yang berlangsung pada Oktober mendatang. Federasi juga akan mempersiapkan dukungan penuh menuju ASEAN Para Games 2027 di Malaysia yang menjadi agenda olahraga disabilitas terbesar di kawasan.


Wakil Presiden APSF bidang Sports and Technical Committee, Dr. Teo-Koh Sock Miang, menjelaskan bahwa kepengurusan baru telah menyiapkan sejumlah program jangka pendek dan jangka panjang. Salah satu fokus utama adalah membantu negara-negara yang masih berada pada tahap awal pengembangan olahraga disabilitas.


“Kita harus mengakui bahwa masih ada negara yang belum siap menyelenggarakan multievent dengan banyak cabang olahraga. Karena itu, kita akan mendorong penyelenggaraan single event agar aspek lain juga berkembang, mulai dari klasifikasi atlet, tenaga teknis lapangan, hingga kepemimpinan organisasi melalui berbagai program pelatihan. Tujuan utama kami adalah memastikan seluruh anggota dapat maju bersama,” ujar Teo-Koh Sock Miang.


Selain penguatan kompetisi, APSF juga mulai mempersiapkan terobosan baru melalui penyelenggaraan ajang olahraga khusus generasi muda. Program tersebut dirancang untuk memperkuat proses regenerasi atlet dan menciptakan jalur pembinaan yang berkelanjutan di setiap negara anggota.


“Kita perlu mulai memberikan perhatian lebih besar kepada generasi berikutnya agar tidak terjadi kesenjangan regenerasi. Karena itu, APSF mulai memikirkan penyelenggaraan youth games yang menjadi wadah bagi atlet muda dan atlet pemula untuk berkembang,” jelas Teo-Koh Sock Miang.


Susunan APSF Executive Committee 2026–2030

Presiden

• Senny Marbun (Indonesia)

Wakil Presiden

• Dr. Teo-Koh Sock Miang (Singapura) – Sports and Technical Committee

• Michael Barredo (Filipina) – Media and Communications Committee

• Dr. Than Than Htay (Myanmar) – Medical and Sports Science Committee

• H.E. Yi Veasna (Kamboja) – Development and Strategic Management Committee

Sekretaris Jenderal

• Sukanti Rahardjo Bintoro (Indonesia)

Bendahara

• Ali Yusri Abdul Ghafor (Brunei Darussalam)



Penulis : Muhammad Fadhli



Editor: Redaksi