Kabupaten Tangerang, — Semangat kebersamaan dan komitmen membangun peradaban pendidikan kembali terpatri dalam agenda Halal Bihalal dan Parenting yang diselenggarakan oleh Aya Sophia Islamic School dengan tema “Merajut Silaturahmi, Membangun Sinergi Sekolah dan Keluarga dalam Mencetak Generasi Berakhlak Mulia”. Kegiatan ini berlangsung khidmat dan penuh kehangatan di kawasan alam terbuka Kebon Djati Diri, Panongan, Kabupaten Tangerang, pada Sabtu, 11 April 2026.
Acara ini tidak sekadar menjadi momentum silaturahmi pasca Idul Fitri, melainkan juga ruang strategis untuk menguatkan ekosistem pendidikan berbasis kolaborasi antara sekolah dan keluarga sehingga dua pilar utama dalam pembentukan karakter generasi masa depan.
Dalam sambutan pembuka, perwakilan manajemen sekolah, Drs. H. Firdaus Putra, MM., menegaskan bahwa paradigma pendidikan modern tidak boleh terjebak pada orientasi sempit yang hanya mengejar kecerdasan kognitif.
“Pendidikan tidak boleh hanya mengejar cerdas pengetahuan. Ia harus mencakup kecerdasan sosial dan keterampilan hidup (life skills), agar anak-anak kita siap menghadapi realitas kehidupan yang kompleks,” tegasnya.
Pernyataan ini sejalan dengan teori holistic education yang menempatkan peserta didik sebagai individu utuh yang tidak hanya sebagai “mesin akademik”, tetapi sebagai manusia yang memiliki dimensi sosial, emosional, dan spiritual.
Sambutan kedua sekaligus refleksi inspiratif disampaikan oleh Ketua Yayasan Aya Sophia Indonesia, Dr. H. Masduki Asbari. Dalam narasi yang sarat makna, beliau menyampaikan rasa syukur atas konsistensi sekolah dalam menghadirkan program parenting hingga mencapai edisi ke-177 adalah sebuah bukti nyata komitmen dalam membangun literasi pengasuhan berbasis nilai.
Beliau mengingatkan bahwa pendidikan anak adalah tanggung jawab kolektif dalam kerangka Tri Pusat Pendidikan: sekolah, keluarga, dan masyarakat.
Secara kritis, beliau mengajukan pertanyaan reflektif kepada para orang tua:
• Sudahkah keluarga menghadirkan figur ayah dan ibu sebagai teladan utama?
• Sudahkah rumah sebagai madrasah pertama memiliki “kurikulum keluarga” yang relevan dengan tantangan masa depan anak?
Lebih jauh, beliau menegaskan bahwa dua dari tiga pusat pendidikan yaitu keluarga dan masyarakat sejatinya berada dalam domain orang tua. Oleh karena itu, peran orang tua tidak boleh bersifat pasif, melainkan harus menjadi active agent of change dalam lingkungan sosial.
Dalam konteks kebijakan mikro berbasis komunitas, beliau juga mengajak masyarakat untuk menghidupkan budaya Jam Belajar Masyarakat (JBM):
“Jangan biarkan anak-anak usia sekolah berkeliaran bebas di ruang publik pada waktu belajar, sekitar pukul 18.00–21.00. Arahkan mereka berada di rumah atau ruang belajar yang kondusif.”
Pesan ini bukan sekadar imbauan moral, tetapi sebuah strategi sosial untuk membangun ekosistem pendidikan yang berkelanjutan dan berbasis komunitas.
Sesi inti parenting diisi oleh narasumber Dr. Komaruzaman, anggota Dewan Pendidikan Kabupaten Tangerang. Dalam paparannya, beliau menghadirkan perspektif komparatif global yang menarik.
Selain Finlandia yang selama ini menjadi rujukan sistem pendidikan dunia, beliau mengangkat Iran sebagai contoh negara yang menekankan integrasi antara ilmu pengetahuan dan spiritualitas.
Menurutnya, pendidikan spiritual dan keimanan merupakan fondasi utama yang akan menentukan keberhasilan anak dalam menghadapi kompleksitas kehidupan di masa depan.
“Anak-anak kita tidak cukup hanya pintar secara akademik. Mereka harus memiliki kekuatan spiritual, agar mampu menyelesaikan persoalan hidup dengan bijaksana di zamannya,” ungkapnya.
Pandangan ini sejalan dengan paradigma character education dan spiritual intelligence (SQ) yang kini semakin diakui sebagai determinan utama keberhasilan jangka panjang.
Acara semakin semarak dengan penampilan kreativitas siswa dari berbagai jenjang dimulai dari TK/PAUD, SD hingga SMP. Pentas ini tidak hanya menjadi ajang ekspresi bakat, tetapi juga representasi keberhasilan pendidikan yang memadukan aspek akademik, seni, dan karakter.
Kegiatan ditutup dengan doa bersama yang penuh kekhusyukan, dilanjutkan dengan silaturahmi, saling memaafkan, dan sesi foto bersama yang mengabadikan momen kebersamaan dalam bingkai ukhuwah Islamiyah.
Sumber: AG
Penulis: Redaksi
Editor: Redaksi 1
