Kabupaten Tangerang, — Pemerintah Kecamatan Cisoka bersama Pemerintah Desa Bojong Loa resmi memulai langkah strategis untuk menjadikan Desa Bojong Loa sebagai sentra industri topi anyaman bambu. Inisiatif ini dipimpin oleh Camat Cisoka, Sumartono, dan Kepala Desa Bojong Loa, Jusepta, sebagai bagian dari upaya memperkuat ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal.
Program ini sekaligus menjadi bentuk komitmen pemerintah dalam membuka peluang usaha baru, meningkatkan daya saing produk desa, serta memberdayakan para perajin bambu yang selama ini berkarya secara mandiri.
Dalam pertemuan koordinasi resmi yang digelar di Bojong Loa, Camat Sumartono menegaskan bahwa potensi kerajinan bambu di wilayah tersebut harus dikelola dengan serius agar mampu memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat.
“Desa Bojong Loa memiliki tradisi kerajinan yang kuat dan kualitas produk yang kompetitif. Pemerintah kecamatan akan memberikan dukungan penuh, mulai dari pembinaan teknis hingga fasilitasi pemasaran, agar industri topi anyaman bambu dapat berkembang secara terstruktur dan berkelanjutan,” ujar Camat Sumartono.
Camat juga menekankan bahwa pengembangan sentra industri bukan hanya soal produksi, tetapi juga tata kelola, branding, dan akses pasar yang tepat.
Kepala Desa Bojong Loa, Jusepta, menyampaikan bahwa pihak desa siap bersinergi dengan seluruh stakeholder untuk memperkuat kelembagaan para perajin. Ia menilai bahwa perkembangan industri ini akan menjadi momentum penting dalam meningkatkan ekonomi keluarga di tingkat desa.
“Perajin kami telah memiliki keterampilan turun-temurun. Dengan adanya pendampingan dan penguatan dari pemerintah, kami yakin kerajinan topi bambu Bojong Loa dapat menjadi produk unggulan yang dikenal luas,” ungkap Jusepta.
Menurutnya, desa akan segera melakukan pendataan perajin aktif, penyusunan roadmap pengembangan produk, serta pembentukan wadah usaha bersama sebagai bagian dari persiapan menuju sentra industri resmi.
Rencana pengembangan akan dilakukan melalui beberapa tahapan utama, di antaranya:
1. Pendataan perajin dan pemetaan kapasitas produksi
2. Pelatihan peningkatan kualitas, inovasi desain, dan standarisasi produk
3. Pembentukan koperasi atau lembaga usaha desa sebagai pusat manajemen pemasaran
4. Penguatan jejaring distribusi melalui sektor UMKM kecamatan dan kabupaten
5. Promosi produk unggulan desa melalui pameran,
Program ini juga akan melibatkan berbagai pihak, termasuk pendamping UMKM, lembaga pemerintah terkait, dan komunitas kreatif.
Warga Bojong Loa menyambut baik program tersebut. Banyak di antara mereka yang meyakini bahwa dukungan pemerintah akan meningkatkan peluang pemasaran dan membuka kesempatan kerja yang lebih luas.
“Selama ini kami memproduksi berdasarkan pesanan, namun pemasarannya masih terbatas. Jika pemerintah ikut turun tangan, kami sangat optimis hasilnya akan lebih baik,” ujar salah seorang perajin.
Dengan adanya kolaborasi kuat antara pemerintah kecamatan dan desa, Bojong Loa diproyeksikan menjadi ikon baru sektor ekonomi kreatif Kecamatan Cisoka. Pemerintah berharap produk topi anyaman bambu tidak hanya dikenal sebagai kerajinan lokal, tetapi juga mampu bersaing di pasar regional hingga nasional.
Camat Sumartono menutup kegiatan dengan pesan optimisme:
“Kami akan mengawal penuh pengembangan sentra ini. Bojong Loa harus menjadi contoh sukses pemberdayaan ekonomi berbasis potensi lokal.”
Reporter: (Acong & tim )
