Tangerang, – Peringatan Haul Akbar ke-20 Abuya Yusuf (KH. Yusuf Caringin) Desa Caringin, Kecamatan Cisoka, Kabupaten Tangerang, Banten, berlangsung khidmat dan menyedot ribuan jamaah dari berbagai daerah. Momentum ini menjadi bukti kuat bahwa sosok ulama kharismatik tersebut tetap hidup di hati umat melalui warisan ilmu dan akhlaknya, Rabu, 6 Mei 2026.
Sejak pagi hari, arus jamaah terus mengalir. Santri, ustadz, hingga para kiai hadir dari berbagai penjuru, memadati area acara hingga akses jalan menuju lokasi. Kepadatan sempat terjadi di sejumlah titik akibat tingginya antusiasme masyarakat yang ingin mengikuti rangkaian haul sekaligus berziarah ke maqom almarhum.
Ratusan tokoh agama turut hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya KH. Amin Fauzi (yang akrab disapa Ustadz Jablay di kalangan jamaah) serta KH. Nurjaya. Kehadiran para ulama ini memperkuat suasana religius dalam rangkaian haul.
Di sisi lain, aparat kepolisian dari Polsek Cisoka turut diterjunkan untuk mengatur arus lalu lintas dan menjaga keamanan. Pengaturan dilakukan secara intensif guna mengantisipasi kemacetan akibat membludaknya kendaraan dan peziarah.
Berkat sinergi antara panitia, tokoh masyarakat, dan aparat keamanan, kegiatan berlangsung tertib, aman, dan kondusif hingga selesai.
Abuya Yusuf dikenal luas sebagai sosok ulama yang berfokus pada pendidikan dan pembinaan santri di lingkungan pesantren salafi, Perannya sebagai murobbi menjadikan beliau figur sentral dalam mencetak generasi penerus.
Dari lingkungan pesantren yang beliau bina, lahir banyak guru, ustadz, dan kiai yang kini menyebarkan ilmu di berbagai daerah. Julukan “gurunya para guru” melekat kuat karena besarnya kontribusi beliau dalam membina dan membentuk karakter keilmuan serta akhlak para muridnya.
“Beliau tidak banyak tampil di depan umum, tetapi ilmunya hidup dan menyebar melalui para santrinya,” ujar salah satu jamaah.
Haul akbar ini diisi dengan pembacaan tahlil, istighotsah, dzikir akbar, serta pengajian umum. Ribuan jamaah larut dalam suasana spiritual yang mendalam saat doa bersama dipanjatkan.
Momentum ini menjadi ruang untuk memperkuat hubungan batin antara umat dengan ulama yang telah berjasa dalam membina kehidupan keagamaan masyarakat.
Para ulama yang hadir menegaskan bahwa haul bukan sekadar agenda tahunan, melainkan momentum refleksi untuk meneladani akhlak dan melanjutkan nilai-nilai yang diwariskan.
“Yang terpenting bukan hanya hadir, tetapi bagaimana kita mengamalkan apa yang telah diajarkan beliau,” ungkap salah satu kiai.
Selain sebagai kegiatan religius, haul ini juga menjadi ajang silaturahmi besar lintas daerah. Ribuan jamaah yang hadir memperkuat ukhuwah Islamiyah dan kebersamaan umat.
Di sisi lain, kegiatan ini turut memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar, dengan meningkatnya aktivitas pedagang dan pelaku usaha kecil selama acara berlangsung.
Dua puluh tahun sejak wafatnya Abuya Yusuf, pengaruhnya tetap terasa kuat. Ia tidak dikenal sebagai sosok yang banyak tampil di panggung, namun melalui pendidikan di pesantren salafi, warisannya terus hidup dalam diri para santri dan umatnya.
Haul ke-20 ini menjadi penegas bahwa seorang ulama sejati tidak diukur dari seberapa sering ia tampil, melainkan dari seberapa besar ia mampu melahirkan generasi penerus dan meninggalkan jejak akhlak yang terus hidup sepanjang masa.
Penulis :(Acong)
Editor: Redaksi 1
