-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan


Iklan

Indeks Berita

Ketika Ilmu Hampir Tergerus Zaman, Majlis Ta'lim Al-Ghozali Bangkit Menjaga Kalamullah.

Senin, 26 Januari 2026 | 10.48 WIB Last Updated 2026-01-26T03:49:55Z



Tangerang, — Di tengah zaman yang kian gaduh oleh tafsir instan dan pendapat agama tanpa rujukan, sebuah majelis sederhana di Kampung Cibugel, Desa Cibugel, Kecamatan Cisoka, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten, terus berdiri dengan keteguhan dan kesabaran. Majelis Ta’lim Al-Ghozali tetap istiqomah menjaga kemuliaan Tafsir Al-Qur’an melalui kajian kitab kuning, dengan adab, sanad, dan keikhlasan para ulama.


Setiap Senin pagi, majelis ini menggelar pengajian rutin Kitab Tafsir yang diasuh oleh KH Amin Fauzi (KH Jablay). Tanpa hiruk-pikuk dan tanpa ambisi popularitas, majelis ini menjadi ruang sunyi bagi para pencari ilmu—tempat Al-Qur’an tidak hanya dibaca, tetapi dipahami dengan penuh rasa takut kepada Allah SWT.


Pengajian tersebut dihadiri para guru, para ustaz, dan para kiai dari berbagai daerah, di antaranya KH Idrus selaku Ketua MUI Tigaraksa serta KH Dahlan dari Panongan. Kehadiran para ulama lintas wilayah ini menegaskan bahwa Majelis Ta’lim Al-Ghozali telah menjadi titik temu keilmuan, tempat para kiai bersua dalam satu tujuan: menjaga kalamullah agar tetap berada di jalur ilmu dan sanad.


Kajian yang dibaca dan diterangkan adalah Kitab Kuning Tafsir, dikaji secara mendalam dan berlapis. Ayat-ayat Al-Qur’an dijelaskan mulai dari makna lafaz, susunan bahasa, hingga kandungan akidah, syariat, dan akhlak. Seluruh proses kajian dilakukan dengan kehati-hatian, jauh dari sikap serampangan dalam menafsirkan firman Allah SWT.


Dalam majelis tersebut, KH Nurjaya dan KH Amin Fauzi (KH Jablay) secara terus-menerus dan berkesinambungan menerangkan kajian Kitab Tafsir. Penjelasan disampaikan dengan bahasa pesantren yang kokoh, disertai pengingat tentang adab menuntut ilmu dan bahaya menafsirkan Al-Qur’an tanpa landasan kitab dan bimbingan ulama.


KH Nurjaya dalam penyampaiannya menegaskan bahwa tafsir Al-Qur’an adalah amanah besar yang tidak boleh diserahkan kepada hawa nafsu dan akal semata.


“Al-Qur’an diturunkan dengan cahaya. Maka memahaminya pun harus dengan cahaya ilmu. Kitab tafsir para ulama adalah pagar umat, agar kalamullah tidak diseret ke kepentingan manusia,” tuturnya dengan tenang namun menghujam.


Sementara itu, KH Amin Fauzi (KH Jablay) menegaskan bahwa majelis tafsir ini diniatkan sebagai bentuk khidmah kepada Al-Qur’an dan upaya menjaga warisan Nabi Muhammad SAW agar tidak terputus oleh zaman.


“Kami tidak berlomba-lomba menjadi ramai. Kami hanya takut jika suatu hari umat berani berbicara ayat tanpa ilmu. Selama masih ada yang mau duduk mengaji kitab, majelis ini insyaallah akan terus hidup,” ujarnya.


Kehadiran KH Idrus, Ketua MUI Tigaraksa, memberi penguatan moral dan keulamaan terhadap istiqomahnya majelis ini. Ia menilai bahwa kajian tafsir bersanad seperti yang dilakukan Majelis Ta’lim Al-Ghozali merupakan kebutuhan mendesak umat di tengah krisis adab dan keilmuan.


“Majelis seperti ini harus dijaga. Di sinilah Al-Qur’an dimuliakan, bukan dijadikan alat pembenaran hawa nafsu,” ungkapnya.


Hal senada disampaikan KH Dahlan dari Panongan, yang menilai bahwa kesederhanaan majelis justru menjadi kekuatannya. Menurutnya, ilmu yang berkah lahir dari kesabaran dan keikhlasan, bukan dari keramaian semata.


Suasana pengajian berlangsung khusyuk dan penuh ketenangan. Jamaah menyimak dengan seksama, mencatat faedah kitab, serta menjaga adab duduk dan lisan. Tidak ada perdebatan kosong, tidak ada sensasi—yang ada hanyalah kesabaran, doa, dan ketekunan merawat ilmu.


Bagi masyarakat Desa Cibugel dan sekitarnya, Majelis Ta’lim Al-Ghozali telah menjadi penjaga adab, sanad, dan martabat tafsir Al-Qur’an. Di saat banyak majelis tergoda oleh panggung dan sorotan, Al-Ghozali memilih berjalan pelan namun istiqomah.


Dari majelis kecil inilah, tafsir Al-Qur’an terus dijaga—dengan doa, kesabaran, dan ketundukan kepada ilmu para ulama—agar tetap hidup dan lurus hingga ke generasi yang akan datang.



red---(Acong)