Serang, — Cara penagihan yang dilakukan seorang marketing KSP Sehati Makmur Abadi menuai keberatan dari seorang nasabah. Persoalan tersebut mencuat setelah petugas penagihan diduga mendatangi rumah nasabah dan berkomunikasi dengan anak nasabah ketika orang tuanya sedang tidak berada di rumah.
Berdasarkan keterangan yang diterima Tren5.co.id, marketing KSP Sehati yang identitasnya belum disebutkan datang ke kediaman nasabah untuk menanyakan keberadaan ibunya kepada anak nasabah berinisial SM.
SM kemudian menjelaskan bahwa ibunya sedang bekerja dan tidak berada di rumah. Namun, menurut keterangan keluarga, nada bicara marketing tersebut dinilai tinggi sehingga membuat anak nasabah merasa tidak nyaman.
Petugas tersebut kemudian meminta nomor telepon anak nasabah dengan alasan agar dapat menghubunginya apabila ibunya sudah berada di rumah.
Persoalan berlanjut melalui komunikasi WhatsApp. Anak nasabah disebut menerima pesan dari nomor yang menggunakan nama akun “Akbarpratama23_”.
Dalam tangkapan percakapan yang diperlihatkan kepada redaksi, terdapat sejumlah pesan seperti “Kalo ada kabarin”, “Ada ga”, “Woi”, hingga pesan tertanggal 23 September 2026 yang berbunyi “Ada ga ibu lu lol suruh bayar.”
Pihak nasabah mempersoalkan penggunaan bahasa tersebut karena komunikasi penagihan ditujukan kepada anak, sementara kewajiban pembayaran yang dimaksud berkaitan dengan orang tua sebagai nasabah.
Menurut keterangan nasabah, sebelumnya dirinya juga telah melakukan komunikasi dengan pihak yang disebut sebagai atasan berinisial AR terkait persoalan pembayaran. Namun, marketing yang bersangkutan disebut mengaku belum memperoleh informasi mengenai komunikasi tersebut.
Nasabah kemudian melakukan konfirmasi melalui sambungan telepon kepada pemilik nomor yang menggunakan nama akun “Akbarpratama23_”.
Menurut keterangan nasabah kepada redaksi, marketing tersebut membenarkan bahwa dirinya memang menghubungi anak nasabah melalui WhatsApp. Ia juga disebut mengakui tindakannya dilakukan karena emosi dan khilaf.
Pernyataan tersebut kemudian menjadi perhatian pihak nasabah, terutama karena proses komunikasi penagihan diduga melibatkan anggota keluarga yang bukan pihak utama dalam kewajiban pembayaran.
Nasabah meminta manajemen KSP Sehati memberikan penjelasan mengenai standar operasional dan etika komunikasi yang diterapkan kepada petugas marketing ketika melakukan penagihan.
Menurut pihak nasabah, persoalan bukan hanya menyangkut kewajiban pembayaran, tetapi juga bagaimana petugas berkomunikasi ketika berhadapan dengan anggota keluarga nasabah.
Manajemen KSP Sehati juga diharapkan menjelaskan apakah tindakan marketing tersebut merupakan bagian dari prosedur perusahaan atau tindakan pribadi petugas yang bersangkutan.
Tren5.co.id telah menyajikan persoalan ini berdasarkan keterangan pihak nasabah serta dokumentasi percakapan yang disampaikan kepada redaksi. Redaksi belum memperoleh keterangan resmi dari manajemen KSP Sehati maupun marketing yang bersangkutan mengenai tudingan tersebut.
Pemberitaan ini bukan merupakan kesimpulan hukum mengenai adanya intimidasi atau pelanggaran prosedur. Setiap pihak yang disebut atau berkaitan dengan pemberitaan memiliki hak untuk memberikan klarifikasi dan hak jawab sesuai prinsip jurnalistik.
Sumber: Nd
Penulis: Redaksi
Redaktur: Redaksi 3
