-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan


Iklan

Indeks Berita

Janji Politik Hancurkan Prestasi Olahraga

Sabtu, 28 Februari 2026 | 17.12 WIB Last Updated 2026-03-01T06:35:31Z

 


Serang, -- Intervensi hingga intimidasi dari kalangan petinggi suatu daerah terhadap seorang calon ketua olahraga dari organisasi terbesar di Indonesia sebuah cerminan ketidak bijaksanaan seorang pemimpin janji demi politik, Jum'at 27 Februari 2026.


‎Pesta demokrasi pemilihan seorang ketua olahraga disebuah daerah tercoreng dengan kepentingan janji politik tanpa memikirkan kehilangan atlet dan prestasi.


‎Pemimpin sebuah daerah bersama pejabat dibawah presiden mengunakan kekuasaan dengan memerintahkan bawahannya untuk berupaya intervensi dalam pesta demokrasi dilakukan secara adil dan amanah hasil rapat kerja untuk dunia olahraga adalah kegagalan dalam memimpin.



‎Perlakuan intervensi oleh pemimpin daerah mengunakan kekuasaan ini menjadi perhatian para pencinta olahraga, banyak yang berpendapat kegagalan seorang pemimpin jika mengutamakan ego dari pada kepentingan sebuah organisasi olahraga yang akan menoreh prestasi membanggakan daerah suatu keputusan fatal.


‎Kicau para pelatih akan perlakuan seorang pemimpin daerah kepada calon ketuanya, tersirat dalam pikirannya akan perdagangan atlet sebagai bentuk ketidakpuasan akan keputusan pemimpin didaerah. Jika hal ini terjadi, daerah itu akan krisis prestasi dalam waktu panjang didunia olahraga.



‎Sadar atau tidak keputusan pemimpin didaerah demi perjanjian politik akan membawa dampak kerugian besar dalam prestasi olahraga.


‎Pemilihan ketua olahraga yang diselenggarakan dengan anggaran pemerintah terbuang sia sia, jika harus diulangi kembali pemilihan yang sama. Surat cinta yang mereka terima terlihat jelas janji kepentingan politik memupuskan gelar prestasi olahraga oleh atlet - atlet.


‎Seorang calon ketua yang berdedikasi menaikkan prestasi daerah kini ingin dihancur leburkan dengan kekuatan penguasa yang tidak berpikir jernih akan malu ketika pengantin gagal mencapai puncak prestasi hampir sama.


‎Salah satu pencinta olahraga ( Gusti ) pernah mengatakan, Bagaimana seorang yang lumpuh mengajarkan kita untuk menari dan Bagaimana seorang yang bisu mengajarkan kita berpidato.




‎Penulis: Redaksi