Tangerang, -- Malam itu, minggu malam, 8 Februari 2026, Cibugel diselimuti suasana yang tak biasa. Langit seakan ikut bersaksi ketika ribuan jamaah memadati lokasi dzikir malam Senin yang dirangkaikan dengan haolan almarhum KH. Hasan Basri. Isak haru, munajat, dan lantunan dzikir berpadu menjadi satu, mengalirkan doa-doa tulus dari hati yang penuh cinta dan kehilangan.
Haolan dan dzikir malam Senin ini digelar oleh keluarga besar H. Syahrul, pimpinan Yayasan Al-Basoriyah, sebagai bentuk bakti, cinta, dan penghormatan mendalam kepada ayahanda tercinta seorang ulama kharismatik yang sepanjang hidupnya mengabdikan diri untuk dakwah, pendidikan, dan pembinaan umat.
Sejak awal acara, suasana khidmat telah terasa. Para alim ulama, kiai, ustaz, tokoh masyarakat, santri, serta jamaah dari berbagai daerah hadir dengan wajah teduh dan hati yang penuh rindu. Mereka datang bukan sekadar memenuhi undangan, melainkan membawa kenangan, doa, dan rasa terima kasih atas jasa besar almarhum KH. Hasan Basri.
Rangkaian acara diawali dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an yang dibacakan dengan penuh penghayatan oleh Qori Ustadz Abdul Baeti asal Tangerang. Setiap ayat yang mengalun seolah mengetuk relung hati jamaah, mengingatkan akan kefanaan dunia dan kekekalan amal saleh.
Dzikir malam Senin kemudian dipimpin oleh Abuya KH. Mukhtar Kamal dari Pasanggrahan, Cisoka. Dalam hening malam, suara dzikir menggema, menyatu dengan isak tangis jamaah. Banyak yang tak kuasa menahan air mata, larut dalam munajat dan doa untuk almarhum, memohonkan ampunan, rahmat, dan tempat terbaik di sisi Allah SWT.
Mauidzah hasanah disampaikan oleh Kyai Ahmad Alawi, yang dikenal luas dengan julukan “Jaka Petir” dari Tangerang. Dengan tutur kata yang tegas namun menyentuh, beliau mengajak jamaah untuk meneladani keikhlasan ulama, menjaga istiqomah dalam dzikir dan ibadah, serta melanjutkan perjuangan dakwah dengan hati yang bersih, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh KH. Hasan Basri semasa hidupnya.
Saat H. Syahrul menyampaikan sambutan, suasana semakin haru. Dengan suara bergetar, ia mengungkapkan rasa terima kasih kepada seluruh jamaah yang hadir dan memohon doa terbaik untuk ayahandanya.
“Dzikir malam Senin dan haolan ini adalah ungkapan cinta kami kepada ayahanda. Kami mohon, jangan putuskan doa untuk beliau. Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadahnya dan menjadikannya ahli surga,” tuturnya, disambut isak tangis jamaah.
Rangkaian acara dipandu dengan penuh keteduhan oleh Kang Karsum, artis sinetron Dunia Terbalik RCTI. Dengan pembawaan yang santun dan hangat, ia menjaga kekhidmatan acara tanpa mengurangi kesakralan dzikir dan doa.
Menjelang akhir acara, doa penutup dipanjatkan dengan penuh pengharapan. Tangis jamaah kembali pecah, malam terasa begitu sunyi namun sarat makna. Banyak jamaah mengenang almarhum KH. Hasan Basri sebagai sosok ayah bagi umat. Ulama yang rendah hati, dekat dengan masyarakat, dan tak pernah lelah menebar kebaikan.
Haolan dan dzikir malam Senin ini bukan hanya menjadi peringatan wafat, tetapi juga warisan nilai dan keteladanan. Keluarga besar H. Syahrul dan Yayasan Al-Basoriyah berharap, semangat dakwah dan akhlakul karimah yang ditanamkan almarhum KH. Hasan Basri akan terus hidup dan diteruskan oleh generasi mendatang.
Malam itu berakhir, namun doa tak pernah usai. Meski raga telah kembali ke pangkuan Ilahi, nama KH. Hasan Basri tetap hidup dalam dzikir, doa, dan cinta umat.
Penulis: Acong
Editor: Redaksi 1

